Kata Blogger Nusantara dipilih untuk menunjukkan persaudaraan lintas suku, termasuk kekerabatan tanpa sekat primordialisme. Bila dicermati, hal itu mengingatkan kita pada persekutuan pemuda pada zaman prakemerdekaan, seperti Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, dan Jong Celebes. Bukan bermaksud untuk romantisme, mengutip istilah Blonthakpoer, semangat Sumpah Pemuda hadir dalam ruang identitas kultural baru, yaitu hiperlink sebagai ciri individu/komunitas.
Nusansa kerakyatan dari pertemuan Blogger Nusantara sudah terasa sejak awal. Lapangan tenis indoor di GOR Sidoarjo mereka sulap menjadi kamp pengungsian. Lantai ditutup terpal plastik, dijadikan kamar tidur raksasa. Para blogger diposisikan bak pengungsi, agar merasakan tak enaknya menggelandang, sekaligus menemukan kebersaman dalam keterbatasan. Semua peserta bisa turut merasakan penderitaan ribuan warga Sidoarjo yang tak menentu nasibnya setelah lumpur Lapindo menenggelamkan rumah-rumah mereka. Di tempat itu pula, dulu, berbulan-bulan korban Lapindo mengungsi.
Kopdar Blogger Nusantara makin riuh-rendah dengan kehadiran sejumlah narasumber dari Penn Olson, Google, Blood4Life, dan Suara Komunitas. Banyak inspirasi terserak dalam sesi serius yang dikemas santai selama dua setengah hari tersebut.


tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Belum ada Komentar
Tulis Komentar