Judul : Pewartaan Warga: Teori dan Praktik
Pengarang : Yossy Suparyo
Penerbit : COMBINE Resource Institution
Tahun : 2010
Dimensi : 12 x 19cm; 128 hlm.
Buku ini disusun sebagai panduan bagi para pewarta di Suara Komunitas agar bekerja secara efektif dan efisien. Kegiatan kepewartaan di Suara Komunitas mengacu pada prinsip-prinsip pewartaan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Pers sehingga seluruh hasil pewartaan harus didasarkan atas fakta. Pewarta mengumpulkan fakta-fakta dari peristiwa yang terjadi di daerahnya dan menyusunnya menjadi berita.
Pengemasan informasi di Suara Komunitas memperhatikan cara pandang pewartaan yang berpihak ke warga. Suara Komunitas merupakan perwujudan kesadaran warga akan pentingnya peran serta mereka dalam mengelola informasi. Lewat pengelolaan informasi, warga berharap tercipta perubahan dalam tata kehidupan mereka.
Selain merekam dan menyebarluaskan informasi di daerahnya, para pewarta Suara Komunitas saling bertukar informasi dengan daerah lainnya. Logika dasarnya, permasalahan yang dihadapi oleh suatu daerah mungkin ada di daerah lainnya. Ide atau cara yang digunakan suatu daerah untuk menyelesaikan masalah bisa menjadi rujukan bagi tempat lainnya. Pertukaran informasi memungkinkan para warga belajar dan mencari jalan keluar.
Sejak 2005, COMBINE Resource Institution (CRI) bersama media-media komunitas di Indonesia mengembangkan pelbagai saluran informasi akar rumput. Ada Jalin Merapi untuk sistem informasi di lereng Gunung Merapi, Apik untuk ajang pertukaran informasi komunitas pedesaan, dan Suara Komunitas untuk pengelolaan dan pertukaran informasi komunitas. Lewat program ini, para pegiat media komunitas menjadi lokomotif perubahan-perubahan di daerahnya masing-masing.
Selain dampak positif dari kerja kepewartaan warga, CRI menyadari pelbagai kesalahan-kesalahan terkait dengan pengemasan informasi sering dilakukan oleh pewarta warga. Kesalahan yang sering muncul, antara lain salah ketik, nara sumber tidak lengkap, pemborosan kata, penggunaan tanda baca yang salah, dan pembuatan kalimat yang tak runtut sehingga berakibat pada penyampaian informasi yang kurang gamblang.
Ada juga permasalahan yang muncul akibat perbedaan pemahaman pewarta atas dunia kepewartaan. Umumnya, mereka masih terjebak dalam cara pandang pewartaan pada media arus utama. Lalu, pada Pertemuan Nasional Suara Komunitas, 17-19 Desember 2009, para penyunting wilayah menyepakati adanya penyusunan Buku Panduan Pewarta Suara Komunitas.
Panduan ini menjadi rujukan para pewarta warga saat mereka bimbang memilih cara pengemasan berita seperti apa yang akan dilakukan. Namun, terbitnya buku ini tidak bertujuan untuk menyeragamkan seluruh gaya dan segi pewartaan yang dilakukan warga. Pedoman ini sekadar alat bantu yang akan mempercepat kerja pewartaan warga. Oleh karena itu, CRI berharap di masa yang akan datang buku pedoman ini dapat dikembangkan lagi.
Buku ini dipersembahkan bagi para pewarta warga yang mampu membuktikan bahwa warga mampu memperkuat diri melalui pengelolaan dan pertukaran informasi. Selamat membaca.

tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Belum ada Komentar
Tulis Komentar